Langit malam itu

 Dua manusia berlari ke atas bukit, mendudukkan dirinya diatas rumput. Siapa sangka dua manusia itu hanya diam dan menatap langit. Si biru dan si jingga. 


Ditengah diamnya malam itu si biru menyeletuk "jingga? Boleh aku bertanya sesuatu?" 

Jingga tertegun dan menoleh "hm? Mau bertanya apa?" 

Lalu si biru menjawab "apa yang kamu paling suka?"

 Jingga menghela nafas "maksut kamu suka apa? Barang? Makanan atau apa?" 

Si biru menambahkan "apa saja. Sesuatu yang paling kamu sukai." 

Jingga menjawab "langit, aku suka langit."

Biru menatap heran "kenapa?"

Dengan senyuman si jingga menjawab 

"Hanya saja, aku suka melihat langit. Langit selalu membawa kebahagiaan. Seperti malam ini, kamu lihat langit itu?" 

Biru mendongak.

" Langit selalu tau cara membuat dirinya cantik, tatanan bulan dan bintang itu membuatku sangat bahagia. Selain itu, langit juga pintar menenangkan orang. Dia selalu membawa angin sejuk di setiap hadirnya yang entah bagaimana setiap orang yang menghelanya merasa lebih tenang. Bagaimana kau tidak suka langit, jika langit seindah dan senyaman itu." 


Biru tertegun, diam sejenak, mencerna kata kata jingga. "Tapi langit juga bisa hujan bahkan membawa petir. Kamu masih suka dengan itu?" 

Jingga diam sejenak lalu menimpali

"Masih. Walau tidak selalu. Tapi kamu tau, manusia tidak selamanya bahagia. Mereka bisa merasakan sedih dan kecewa. Namun tidak semua orang mau melampiaskan kesedihan itu secara terbuka.

Langit hadir dengan hujan dan petirnya, untuk menemani kesedihan itu agar manusia itu tidak merasa sendiri dengan sedihnya. Maka dari itu kenapa aku bilang langit selalu membawa kebahagiaan." 


Pada saat itu Biru sangat tau bahwa ia tidak salah menyukai Jingga.

 

Komentar